Minggu, 18 September 2016

" LOMBOK, GA BAKAL KAPOK!" (Bagian I )

Tujuh bulan sudah penantian berakhir. Alhamdulillah, puas dan lega walau sempat gondok di awal. We love you, Lombok !! Eh, kalimat ini harusnya saya tulis bagian closing postingan blog ya? Hihihi. Ga papa juga ding. Bagian yang paling penting adalah proses, bukan ending, yes?. *ngeles garing*

Minggu pertama di bulan September, saya dan pak Hartonce (ini nama panggung suami tercinta) akhirnya bisa menikmati cuti tahunan. Walau sebenarnya 'hanya' tiga hari sih. Rabu, Kamis, dan Jumat. Untungnya ketolong sama  tanggal merah di hari Senin, jadi bisa lumayan puas pacaran *uhuk*. Destinasi yang kami tuju adalah pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sudah cukup lama saya memimpikan bisa mengeksplorasi eksotisme Lombok dan 'ngidam' naik sepeda berduaan mengelilingi Gili Trawangan. Biar ga, kalah romatis ma Rhoma Irama - Yati Octavia. Namun seperti yang sering saya dengar, Lombok KATANYA luar biasa cantik, tapi...mahal!  Iya laaah, jadi cewek cantik harus mahal, jangan dijual mureeeh. Katanya selebriti dengan tarif off air tinggi, kok demen jual diri. Oops..maaf, saya emosi gara-gara terlalu mendalami gosip artis di akun @lambe_turah. :D

Sesuai kesepakatan saya dan suami, untuk agenda ngetrip ke Lombok kali ini durasinya (pilem kali pakai durasi) adalah 4 Hari/ 3 Malam dan mengutamakan sisi fun & kenyamanan. Bukan sejenis luxury travel yang budget nya gila-gilaan plus nginepnya di resort yang rate semalamnya jutaan (lha duite mbahe, pho?!). Semampunya saja. Tujuh bulan saya hunting tour agent. Mulai dari ngubek-ubek di web, instagram, kaskus, detik forum, blog walking, sampai nanya-nanya secara pribadi ke aa' Gatot Brajamusti *benerin kerudung*. Bagi biro tur yang masuk kualifikasi dan lolos uji sertifikasi (fasilitas oke , harga damai), barulah saya minta dikirimin penawaran via email. Komunikasi dengan para marketing pun berlanjut ke WA, kadang komen-komen manja di akun instagram mereka. Tapi kok masih krisis pede juga karena budget yang kurang mesra dengan kondisi dompet. Bisa maksain berangkat sih, tapi uang saku pas-pasan. Hiks. Padahal saya dan suami sudah menyisihkan gaji 13 dan 14 (andalan para pegawai ngerih), stop belanja belanji, ngirit maksimal, dan menahan keinginan untuk membeli mesin cuci demi mewujudkan mimpi honeymoon-an ke Lombok. Untungnya di saat-saat genting saya mendapat subsidi dari pegipegi berupa voucher tiket pesawat tujuan domestik senilai dua juta rupiah. Hadiah kuis di facebook. Alhamdulillah! Lalalayeyeye.

Tiket pesawat maskapai Citilink (Surabaya -Lombok PP) untuk dua orang adalah Rp. 2.400.000,-. Karena ada subsidi Rp. 2.000.000,-  dari pegipegi, jadi saya cukup bayar Rp. 400.000 saja. Yihaaaa. Sebelum menentukan biro tour yang cocok, saya membuat daftar spot apa yang akan dikunjungi selama di Lombok. Jadi tidak pasrah total sama biro. Ini beberapa rencana destinasi yang saya masukkan dalam list :
1. Pink Beach
2. Air Terjun Benang Stokel dan Benang Kelambu
3. Pantai Senggigi
4. Gili Trawangan
5. Pantai Tanjung Aan 
6. Pantai Kuta
7. Sasak Tour 
8. Taman Narmada
9. Wisata belanja (Lombok Gandrung, Lombok Exotic, dan Phoenix food)

Dari berbagai penawaran biro, saya menjatuhkan pilihan pada Green Chili Tour. Harga paket private trip yang mereka tawarkan selama 4 hari/ 3 malam adalah Rp. 5.840.000,-. / couple. Sudah termasuk menginap 3 malam di Aruna Beach Senggigi (sea view), mobil (guide + driver +bbm), tour, private speed boat ke Gili Trawangan PP, boat untuk menyusuri Pink Beach, makan, minum, dan dinner sesuai itinerary, serta airport transfer. 

Silakan buat pembaca yang punya rencana liburan ke Lombok, baik couple maupun rombongan, bisa ubek-ubek website-nya ( http://www.paketliburanlombok.com ).  Pilihan paket tur-nya lengkap dan fleksibel. Bahkan paket 'one day special trip' alias tur harian juga ada. Kadang ada juga paket open trip yang harganya lebih terjangkau. Nanti bisa tanya-tanya via whatsapp ke miss Renny. Orangnya ramah dan helpful banget. Bukan endorse ya ini. Hahaha.


And here we go...!

DAY 1 - 07 September 2016
Kami sampai di Bandara Juanda Surabaya pukul 05.00 WIB sementara flight nya masih 4 jam lagi. Mata kriyip-kriyip di mix dengan muka sepet karena baru bisa tidur satu jam sebelum sampai ke Juanda. Iya, itu gara-gara ketipu sama travel kucrut yang mengangkut kami dari Sragen menuju bandara. Selama 6 jam badan semlohay ini digoncang-goncang dengan kejam di kursi full debu dan banyak bekas injakan sepatu. Mesin mobil dan saya sama-sama batuk-batuk. Beda banget dengan promo petugas travel saat kami beli tiket di Tirtonadi, Surakarta. Janjinya : Mobil Elf, AC, reclining seat, nomor kursi sesuai permintaan, dan on time. Kenyataannya...ZONK, shay. Janji dijemput jam 9 malam, ternyata baru datang jam 11 tengah malam. Saya dan suami nungguin di Alfamidi sampai pantat kebas karena duduk kelamaan lengkap dengan koper dan tentengan tas camilan. Persis pasangan yang baru diusir mertua. #Eeh. Armada travel tidak sesuai dengan foto yang diberikan. Kondisi mobil kurang layak jalan. Mungkin harusnya sudah dipajang dengan hormat di Museum Angkut. Jendela ngablak tak berdaya karena AC mobil sudah wafat dengan nestapa. Reclining seat? Boro-boro. Belakang kursi kami berdua adalah kardus-kardus segede gaban yang bertanggung jawab atas ketidaknyamanan tempat duduk. Masih mending banget nget nget naik KA ekonomi. Walau kursi tegak lurus, tapi full AC.

Okay...edisi lengkap sharing pengalaman nggambus ini akan saya posting terpisah aja yaa. However, saya dan suami udah bikin janji. Misal menemui kendala ataupun hal yang bikin bete, kita tidak akan saling menyalahkan. Dibikin happy aja. Rugi kan kalau momen liburan jadi rusak gara-gara berantem?

Untunglah suasana dalam pesawat Citilink QG 664 bisa menjaga mood tetap terawat. Apalagi pak Hartonce. Menang banyak dia. Flight nya on time, pramugari kece-kece, duduk dekat jendela, dan banyak kursi kosong pula. Inilah kenapa saya pilih hanimun-an bukan saat musim liburan. Kenyamanan, baik di mata maupun di kantong, lebih terasa.


Banyak kursi kosong. Legaaaa ^^

Tepat pukul 11.30 WITA,  pesawat yang kami tumpangi mendarat di Lombok International Airport. Saya sempat terharu karena begitu keluar dari bandara banyak banget cowok-cowok yang menyapa. Fans militan Andien Holic, mungkin? Hampir saja saya mengeluarkan pena PILOT andalan untuk berjaga-jaga jika massa menyerbu tiba-tiba. Siapa tahu mereka minta tanda tangan. Oh, rupanya para pria perkasa itu colak colek saya untuk menawarkan taksi dan rental mobil. Huuuuu...penonton kecewa!

Beberapa menit kemudian, guide dari Green Chili Tour datang menghampiri setelah sebelumnya mengacung-acungkan kertas bertuliskan, "Welcome Dian Sastro Ibu Andien". Nama beliau pak Muliadi dan akrab dipanggil Pak Mul. Kami pun bersalaman layaknya kerabat yang sudah puluhan tahun tidak bertemu karena lupa mudik. Pak Mul kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik ranselnya. Ular kobra-kah? *ancang-ancang niup seruling sambil nyiapin geyolan maut*.  Dua buah scarf tenun khas Lombok kemudian dikalungkan pak Mul ke leher saya dan suami sebagai ucapan selamat datang. Aiiihh..to tuiiit . Saatnya menyapa manja, "Hello Lombok .. !"

Horeee dapat scarf baru.
(Pict : Pak Muliadi)



Agenda tur di hari pertama adalah menuju ke Pantai Pink yang letaknya di Jerowaru, Lombok Timur. Waktu tempuh dari bandara sekitar 1,5 jam. Ternyata pak Mul selain guide juga merangkap driver. Praktis, Avanza putih yang membawa kami hanya diisi tiga orang; saya, pak Hartonce, dan Pak Mul. Jalanan muluuuus pun sepi. Pak Mul cerita, katanya para tamu dari Jakarta sering berkelakar bahwa mereka bisa nyetir mobil sambil merem jika sedang berada di Lombok, saking lengangnya jalan raya.

Kami sampai di Pelabuhan Tanjung Luar untuk berganti moda transportasi. Biro sudah menyediakan private boat untuk mengantar kami menyusuri Pantai Pink. Wah, mata yang tadi sepet jadi seger lihat gradasi warna laut. Biru tua, biru, hingga tosca. Cantik! Yes, we need "vitamin sea". Hehehe. Setelah sekitar 30 menit bergoyang dumang di boat, kami tiba juga di Pantai Pink. Wohoooo...








Sekelilingnya merupakan area perbukitan yang lumayan tandus. Unik jadinya. Pantai yang jika pagi dan sore hari pasirnya berwarna pink (karena mengandung batu koral) berpadu dengan pepohonan yang ranting-rantingnya mendominasi karena daunnya banyak yang meranggas. Kami pun mendaki bukit agar bisa melihat spot Pantai Pink dari atas. Sementara pak Mul meminta nahkoda kapal (apa sih istilahnya?) untuk menyiapkan makan siang. Konon, kami akan makan ikan bakar di tepi pantai. Ikannya ikan segar yang baru saja ditangkap di sana. Sedaaap.

Inilah pemandangan Pantai Pink dari atas bukit.


Karena Pak Mul gak ikut naik, jadi kami dibantu Pak Sis buat sesi foto-foto.
Iya..Tongsis. Hihihi




Lama-lama, perut pun mulai unjuk rasa menuntut hak-nya. Kami bergegas turun menuju gazebo tempat kami meletakkan barang bawaan. Aduh, nyaman banget selonjoran di bale-bale sambil memandang laut. Eh, ternyata ga cuma kami berdua ding yang (pura-puranya) lagi pacaran. Ada dua pasangan bule yang juga asik berbaring di atas pasir Pantai Pink. Bedanya, ceweknya pada pakai bikini berburu sinar matahari, sementara saya berteduh 'krukupan' pake topi dan kaos kaki. Hahahaha...!

Makanan sudah siap, gaes. Saya dan suami melongo melihat banyaknya lauk yang tersaji. Kami cuma berdua, sementara istri pak nahkoda menyuguhkan sepanci kepiting pedas (sepanci ya, bukan seekor), semangkuk udang asam manis, semangkuk cumi-cumi yang dikeringkan, dan sepiring besar ikan bakar. Lengkap dengan tiga macam sambal plus es kelapa muda. Akuuuh bisa apaaaah???

Lupakan diet dan hajaaaaar!!

Siluet pak Hartonce sesaat sebelum deti-detik penghabisan.
(Supported by Teh Botol Sosro )



Sore harinya, kami kembali naik ke boat untuk menuju Pulau Pasir. Belum ada gambaran sih di sana bakal seperti apa. Di tengah perjalanan, Pak Mul terlihat serius diskusi dengan suami saya. Semoga bukan sedang merayu suami agar cari bini lagi. Rupanya Pak Mul sedang meyakinkan suami agar tetap menjajal snorkeling di Pantai Pink karena terumbunya masih sangat alami dan visibilitasnya oke. Ikan-ikannya juga mudah akrab sama kita. *ssst, cucok diajak ngegosip bareng ye, mpok*. 

Suami ragu karena baju buat snorkeling tertinggal di mobil. Dan, istri yang bijak dan cantik segera turun tangan mengatasi situasi, "Sayang, ga papa lah nyebur pakai baju itu. Rugi lho udah sampai sini ga snorkeling. Baju basah ga masalah. Kan bisa di laundry di hotel.", tutur saya sambil tersenyum legitSuami pun mantab mengambil masker dan snorkle yang memang tersedia di kapal untuk disewakan. Lalu byuuur, doi meloncat ke laut ditemani mas nahkoda. Meninggalkan daku begitu saja tanpa kata-kata mutiara. Sementara mulut ini komat kamit, "Semoga ongkos laundry di hotel ga mahal ya Tuhan...aamiin.."

Laut di sebelah sini warna airnya biru tua. Arusnya kuat.

Yang sebelah sini lebih dangkal katanya

Sementara suami berbasah-basah ria, saya bengong. Pengen ikutan tapi saya sedang datang bulan. Kata Pak Mul sih ga masalah buat nyebur ke laut meski sedang bulanan. "Ikan Hiu nya cuma muncul kadang-kadang kok, Mbak." Hiiiiiiiiyyyyy!!

Melihat saya cuma bengong sambil merem melek keasikan kena angin laut, Pak Mul menawarkan sesi foto-foto. Hayuuk atuh. Kenapa ga dari tadi, Pak. 

Manusia perahu


Pak Hartonce diajakin naik ke bukit (dalam lingkaran kuning).
Konon menurut sahibul hikayat, ada goa yang isi nya ular besar

Sesekali, saya memberi makan ikan-ikan cantik yang muncul di permukaan. Warnanya eye catching. Dari biru sampai kuning. Bikin gemes. Setengah jam kemudian, suami naik ke perahu. Nafasnya ngos-ngosan. "Arusnya kenceng banget. Lebih kenceng daripada di Pulau Menjangan.", curhat suami. Tapi keren kan ikan-ikannya, Pak?

Perahu kembali melaju menuju Pulau Pasir. Lumayan lama perjalanannya. Saya sempat membayangkan bisa gelar kasur dan leyeh-leyeh di kapal. Barengan sama Reza Rahadian, Hamish Daud, dan Nicholas Saputra sebagai ABK. Surga dunia banget ya..hihihi.

Pulau Pasir terlihat di depan mata. Ada rombongan wisatawan yang terlihat sedang seru-seruan di sana. Pas kapal kami tinggal beberapa puluh meter lagi, rombongan itu pergi. Wah..asiiik. Berasa pulau pribadi deh. Tapi..lho..lho..kok boat kami malah menjauh dari pulau. Iki piye Son?!!! Kepriben?!

"Kapalnya ga bisa sandar di sana, Pak. Air sudah surut. Jadi kita jalan dari sini menuju pulau.", jelas pak Mul ke suami. 

Wuaaah..jadi kita jalan di tengah-tengah laut? Kaya membelah laut pakai tongkat nabi Musa dong. Ga sabar, nih!


Turun dari kapal di tengah laut. Airnya cuma semata kaki.


Bendera Merah Putih itulah penanda pulau yang kita tuju.


Pemirsa, ini beneran seruuuu ! One of our greatest journey...
Perjalanan menuju pulau lumayan jauh lho ternyata. Kanan dan kiri lautan lepas. Sementara di depan serombongan burung camar putih terbang meliuk-liuk lincah. Indahnya. Saya tak henti mengucap syukur.  Ihik-ihik. Mendadak sentimentil, gitu. 


Kepada sang Merah Putih, hormaaat grak!

Ngabisin batere kamera hape sambil menunggu senja



Menjelang Maghrib, boat pun melaju untuk kembali ke pelabuhan Tanjung Luar. Salah satu senja terbaik yang pernah saya alami ternyata ada di sini, di sekitar Pulau Pasir. *berkaca-kaca*

Sampai di Pelabuhan Tanjung Luar, suasana terlihat heboh karena nampak kerumuman penduduk. Saya mengira ada kecelakaan atau korban tenggelam. Aduh...jangan deh. Ga jadi romantis, malah traumatis dong. Ternyata ada nelayan muda yang dikerumuni. Dia mendadak jadi selebritis karena berhasil mendapatkan ikan Blue Marlin! Pakai pancingan biasa lho, Gan. Keren lah. Ikan tersebut langsung ditawar 14 juta rupiah. Dan deal. Widiih...hebat amat. Karena penasaran, saya mendekati sang ikan yang sudah berpulang ke alam baka. 






Selesai bilas-bilas, ganti baju, dan menumpang shalat di mushala (karena Lombok dikenal dengan 'Pulau 1000 Masjid, jadi sangat mudah mencari tempat beribadah. Di tiap desa bahkan memiliki masijd yang besar), kami melanjutkan perjalanan menuju hotel di daerah Senggigi. Jarak tempuhnya sekitar 2,5 jam. Sebelum ke hotel, kami mampir makan malam di Rumah MakanTaliwang Nada. Letaknya di Jl. Sayang Sayang, Mataram. Ini sudah include paket dari biro tur.

Menu makan malam yang disuguhkan berupa Ayam Taliwang Nada, Bebalung (semacam sup iga sapi), dan Plecing Kangkung. Pedas dan bumbunya nendang. Ukuran ayam kampungnya ga besar-besar banget, tapi rasanya beuuh...endez surendezz deh .Menu kuliner pembuka yang mantab!! *lap iler* . 

Bagi pembaca yang berencana ke Lombok, rumah makan ini wajib masuk list ya. Iseng saya intip daftar menunya, seporsi ayam taliwang dipatok harga Rp. 45.000,- , Bebalung Rp. 40.000,- dan Plecing Kangkung Rp. 17.000. Segelas es teh Rp. 7.500. Bhok, jauh lebih murah beli es teh di Sragen yaa. Hihihi. 

Pencahayaan kurang bagus buat foto menu makanannya. Maklum, kamera abal-abal. :(

Namanya orang desa, wajib ada tahu tempe. :D

Yang mau pesan nasi kotak, bisaaaa


Penampakan Ayam Taliwang
(Pict. courtesy Kompasiana.com)


Pukul 21.00 WITA, kami sampai di Aruna Senggigi Beach. Sesuai paket, kami mendapat 'jatah' kamar yang view nya menghadap ke pantai. Cocok lah sama request-nya  pak Hartonce. Doi ga begitu suka menginap di hotel yang berupa gedung bertingkat macam apartemen. Lebih suka yang model rumah/cottage, ada kursi teras buat kongkow ma ngerokok (iih!) plus gampang cari udara segar kapan saja. Okay bro. Terserah deh. Yang penting hepi. Untuk rate nya, iseng saat saya cek  Traveloka, sekitar 600 ribu an (harga promo untuk yang standard room). Kalau publish rate nya sih sekitar 800 ribu an. Saya setuju sama pak Mul, 

"Kalau ke Lombok, ga perlu sewa kamar yang semalamnya jutaan. Mubadzir. Kan hanya untuk tidur malam saja. Seharian digunakan buat jalan-jalan, eksplore Lombok. Kecuali memang mau hanimunan di kamar saja dari pagi sampai malam."

Bener banget, Pak!

Untung pak Hartonce ketiduran di mobil, jadi ga bisa tepe-tepe sama mbak resepsionis yang asli manis ini.


Ini penampakan kamarnya: 







Selamat beristirahat, gaes..^^



**B E R S A M B U N G**

8 komentar:

  1. Berasa ikut ngexplore lombok, ndhusel di tengah tengah mba andien ma pak Hartonce ^^
    Ditunggu episode selanjutnya ya mba andien
    Ntar klo udh dipost, colek lagi di fb ya mba...arya yong...jo lali, wkwkwkk..msh penasaran

    BalasHapus
  2. Halooo sayang. Makasih ya udah sudi mampir di sini. Siyaaap. Bakalan diposting lagi kelanjutannya. Hihihi

    BalasHapus
  3. Asli bikin ngakak caption fotonya yang ini.

    "Untung Pak Hartonce ketiduran di mobil...

    Sukak banget sama ceritanya, dear.

    Ayo simak ceritaku eksplor Lampung dong,

    Hehehe...

    BalasHapus
  4. siaaap say. Makasih udh mampir. Daku pembaca setia blog mu lho sayank

    BalasHapus
  5. Aseeeek bener, mbak ! Pengeeeeen...(mbak2 resepsionis) eh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih udah mampir, mas bro. Ikutan open trip yuuuuk

      Hapus
  6. asik juga baca dongengan mbk Andin, meski bbrp kali aku ke lombok bawa grup tour, tp aku gk bisa sekece ini bikin review kaya mbk Andin, oia terakhir aku ke lombok pertengahan agust kmrn gk ketemu mbak Reni Green Chili meski kami janji mau ngupi2 bareng, hahahahha, kutunggu cerita aseknya Lombok part 2 ya mbk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo mas Langit Biru, terimakasih sudah mampir yaa. Mas sering bawa tamu ya? Asiik bangeeet. Mau dong di-guide in. #Eeaaaaa

      Hapus